PEMBUATAN ASAM SULFAT
PROSES
KONTAK
A.
Latar
Belakang
Indonesia
merupakan negara agraris dengan berbagai macam kondisi variabel, baik suhu,
struktur tanah maupun curah hujan. Sehingga akan dihasilkan berbagai macam
produk hasil pertanian. Namun dari tahun ke tahun hasil pertanian semakin
menurun yang disebabkan berbagai hal.
Pupuk
merupakan bahan penunjang di bidang pertanian. Pupuk terdiri dari 2 macam,
yakni pupuk organik (kompos) dan pupuk anorganik (sintetis). Pupuk sintetis
akan lebih banyak berpengaruh di bidang pertanian, karena pupuk sintetis dapat
diproduksi dengan berbagai jenis/karakter. Dengan tersedianya berbagai macam
pupuk maka diharapkan semua kondisi variabel dapat diatasi, meskipun diperlukan
biaya yang cukup besar untuk memproduksinya.
Asam
sulfat adalah asam dengan nilai α = 1, yang terdiri dari tiga unsur yaitu
hidrogen, sulfur dan oksigen. Asam sulfat merupakan salah satu bahan baku
pembuatan pupuk superfosfat, yang menghasilkan pupuk dengan kandungan sulfur
yang cukup. Kandungan sulfur akan membuat struktur tanah menjadi lebih subur
karena sulfur akan bereaksi dengan oksigen dan akan memberikan nutrisi dan
meningkatkan unsur hara.
Selain
sebagai bahan baku pupuk, asam sulfat juga digunakan sebagai bahan pereaksi di
laboratorium maupun di pabrik-pabrik.
B.
Alasan
Memilih Judul
Kebutuhan
asam sulfat tidak akan pernah berhenti, karena asam sulfat digunakan di
berbagai industri kimia dan di laboratorium.
Asam
sulfat dapat diproduksi dengan berbagai cara antara lain dengan proses chamber,
proses kamar timbal dan proses kontak.
Pembuatan asam sulfat dengan proses kamar timbal memiliki efisiensi yang sedikit.
Selain itu pada reaktor
utamanya dilapisi timbal, selain harganya yang mahal, timbal juga merupakan
logam berat yang berbahaya bagi lingkungan. Proses ini sudah sedikit
peminatnya, karena proses ini tidak baik bagi kelanjutan kehidupan bumi.
Lain
halnya jika menggunakan proses kontak, selain nilai ekonomisnya dan
efisiensinya yang lebih besar, proses ini juga tidak menggunakan logam berat
pada reaktornya. Sehingga akan menambah profit dari pabrik itu sendiri dan
tidak mencemari lingkungan.
C.
Proses
Pembuatan dan Bahan
1.
Proses
Pembuatan Asam Sulfat Metode Kontak
Pembuatan asam sulfat menurut
proses kontak berdasarkan reaksi kesetimbangan. Secara garis besar tahapan
proses kontak yang terjadi diuraikan sebagai berikut :
a. Pencairan belerang padat di melt tank
b. Pemurnian belerang cair dengan cara filtrasi
c. Pengeringan udara proses
d. Pembakaran belerang cair dengan udara kering untuk
menghasilkan sulfur dioksida (SO2)
e. Reaksi oksidasi lanjutan SO2 menjadi SO3
dalam empat lapis bed
f. konverter dengan menggunakan katalis V2O5
g. Pendinginan gas
h. Penyerapan SO3 dengan asam sulfat 93%-98,5%
Belerang padat dicairkan di dalam melting tank kemudian dipompakan
ke dalam tanur melalui pipa-pipa panas yang bertujuan agar sulfur tetap dalam
keadaan cair, sehingga sulfur dapat dipompakan, kemudian sulfur dikabutkan
melalui sebuah nozle yang bertekanan tinggi akibat dari tekanan udara yang
berasal dari sebuah kompresor. Sulfur dan udara akan bercampur lalu terbakar di
dalam tanur.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
Belerang cair dibakar pada suhu sekitar
800⁰C,
sehingga menjadi gas belerang dioksida.
S(l)
+ O2(g) à SO2(g) (1)
Gas hasil pembakaran dalam tanur didinginkan secara mendadak
melalui sebuah quencher, sampai suhu 425-440⁰C, dengan harapan didapat konversi yang maksimal saat
akan diubah menjadi gas SO3.
Belerang dioksida kemudian dimasukkan ke dalam sebuah konverter
untuk dioksidasi lebih lanjut dengan udara menjadi gas belerang trioksida (SO3(g)).
Pada tahap ini diharapkan gas sulfur trioksida memiliki konversi yang tinggi.
Keseimbangannya merupakan kebalikan suhu dan fungsi langsung rasio
oksigen terhadap sulfur dioksida, laju reaksi merupakan fungsi suhu. Komposisi
gas dan banyaknya katalis akan mempengaruhi laju, konversi dan kinetika reaksi.
Reaksi yang terjadi adalah eksotermis yang
reversible sebagai berikut :
2SO2(g)
+ O2(g) ßà 2SO3(g)....... ΔH= -98 kJ (2)
Reaksi ini berlangsung pd suhu sekitar 500⁰C, tekanan 1 atm dengan
katalisator V2O5.
Kemudian gas SO3(g)
dilarutkan ke dalam menara asam untuk dikontakkan secara langsung dengan asam
sulfat pekat hingga menjadi asam sulfat pekat berasap (oleum dengan rumus kimia
H2SO4.SO3 atau H2S2O7)
SO3 (g) + H2SO4
(l) à
H2S2O7 (l) (3)
Oleum hasil dari menara asam
dimasukkan ke dalam tangki mixing. Oleun akan diencerkan dengan air sehingga kelebihan
SO3 akan terlarut di dalam air, dan didapat asam sulfat pekat yang
tidak berasap.
H2S2O7
(l) + H2O (l) à 2 H2SO4
(l) (4)
Dari proses kontak ini lalu akan terbentuk asam
sulfat pekat dengan kadar 98-99%.
Tahap penting dalam proses ini
adalah reaksi (2). Reaksi ini merupakan reaksi kesetimbangan reversible dan
eksoterm. Sama seperti pada sintesis amonia, reaksi ini hanya berlangsung baik
pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu tinggi justru kesetimbangan bergeser ke
kiri, sehingga suhu gas harus dijaga konstan.
Pada proses kontak digunakan suhu
sekitar 500⁰C
dengan katalisator V2O5. Sebenarnya tekanan besar akan
menguntungkan produksi SO3, tetapi penambahan tekanan ternyata tidak
diimbangi penambahan hasil yang memadai. Oleh karena itu, pada proses kontak
tidak digunakan tekanan besar melainkan tekanan normal yaitu 1 atm.
a.
Bahan
baku
1)
Belerang
(sulfur)
Belerang merupakan salah satu bahan
dasar yang paling penting dalam industri pengolahan kimia. Bahan ini terdapat
di alam dalam wujud bebas dan dalam keadaan senyawa pada bijih – bijih seperti
pirit (FeS2), Sfalerit (ZnS) dan Kalkopirit (CuFeS2) .
Bahan ini juga terdapat di dalam minyak dan gas bumi biasanya sebagai H2S.
Penggunaan belerang yang terbesar adalah dalam pembuatan asam sulfat.
Sulfur umumnya berbentuk padat,
berwarna kuning muda dan berbau kurang menyengat. Saat dipanaskan sulfur akan
mencair pada suhu 130⁰C,
berwarna coklat dan baunya sangat menyengat.
2)
Udara
Udara yang digunakan adalah udara
disekitar pabrik, yang dikompresikan dengan sebuah kompresor dan dikeringkan,
sehingga dapat memberikan tekanan pada saat pembakaran sulfur.
3)
Air
Air yang digunakan adalah air dalam
tanah yang didemineralisasi. Sehingga dihasilkan air dengan kandungan mineral
yang rendah. Kandungan mineral yang rendah akan memperlambat pembentukan kerak
pada heat exchanger.
Air juga digunakan untuk
pengenceran asam sulfat berasap, menjadi asam sulfat. Jika digunakan air dengan
kandungan mineral yang rendah, diharapkan hasil asam sulfat memiliki kemurnian
yang tinggi.
b.
Bahan
penunjang
Katalis
Fungsi katalis dalam setiap reaksi
katalitik adalah meningkatkan laju reaksi. Katalis konversi sulfur dioksida ini
biasanya terdiri dari tanah diatomea, yang disusupi dengan lebih dari 7% V2O5
katalis komersial mengandung garam kalium (sulfat, pirosulfat dan sebagainya)
disamping V2O5. Pada suhu operasi pewaris aktif ialah garam
lebur yang terdapat pori – pori pelet silika.
Katalisator yang dapat digunakan
untuk reaksi pembentukan belerang trioksida antara lain Pt, V2O5,
Fe2O3, Cr2O3, Mn2O3
dan Mn3O4.
Katalisator yang baik adalah Pt dan V2O5,
tapi yang paling banyak dipakai adalah Vanadium Pentoksida, karena :
·
V2O5 lebih murah
harganya
·
Pt lebih mudah teracuni
·
V2O5 memiliki daya
tahan terhadap suhu tinggi yang lebih baik
·
Konversi relatif lebih tinggi (Fairlie,
Sherve, Kirk Othmer)
2.
Sumber
Daya Manusia & Teknologi
Pabrik asam sulfat dapat didirikan
di lahan dengan luas area sedang sekitar 900m2, baik didirikan di
pantai maupun di tengah-tengah daratan. Hal ini dapat dilakukan karena sebagian
besar limbah pabrik asam sulfat berupa cairan polar yang dapat dinetralkan
dengan sodium hidroksida dan atau natrium bikarbonat. Sehingga jika terjadi
tumpahan, asam sulfat dapat ternetralisasi oleh sodium bikarbonat.
Pabrik asam sulfat juga merupakan
pabrik menengah dan padat karya. Sehingga pabrik asam sulfat dapat didirikan
dengan sedikit modal dan sedikit pekerja. Akan tetapi diperlukan suatu alat
untuk mengatur proses tersebut, sehingga cukup diperlukan sedikit operator.
Sumber daya manusia yang diperlukan
cukup mengerti tentang dasar-dasar peralatan proses. Alat proses tersebut meliputi
valve, pompa, dan line proses. Tidak dibutuhkan keterampilan khusus untuk
menjalankan proses ini.
D.
Kesimpulan
Asam
sulfat adalah zat kimia yang bersumber dari sulfur yang dioksidasi sehingga
didapat asam sulfat. Asam sulfat merupakan asam kuat dengan nilai derajat
disosiasi satu. Asam sulfat berasap atau oleum merupakan asam sulfat dengan
sulfur trioksida berlebih. Sehingga larutannya akan menimbulkan asap yang
berasal dari gas sulfur trioksida.
Asam
sulfat dapat didirikan dengan sedikit modal dan sedikit pekerja. Sehingga
pabrik ini dapat dikategorikan dalam pabrik jenis menengah dan padat karya.
Pabrik asam sulfat tidak membutuhkan area yang luas dan dapat didirikan di
tengah daratan. Akan tetapi akan lebih ideal jika pabrik ini didirikan di dekat
laut, sehingga transportasi sulfur dan produk dapat dilakukan dengan lebih
mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar